Takeda

Persiapan Sekolah Anak: Lindungi dari Demam Berdarah Dengue

Bukan Hanya Seragam dan Buku, Perlindungan Menyeluruh dari Demam Berdarah Dengue Perlu Masuk Daftar Persiapan Sekolah Anak


Calendar
3 Agustus 2026
  • Data Kementerian Kesehatan pada 2025 menyebutkan, 59% kematian akibat DBD terjadi pada anak usia 0–14 tahun, menegaskan pentingnya perlindungan anak saat kembali bersekolah.1
  • Virus dengue terdiri dari empat serotipe, terjangkit satu serotipe masih memungkinkan terjangkit serotipe yang lain.2
  • Satu episode rawat inap akibat dengue menimbulkan rata-rata beban biaya total sekitar Rp6 juta, hampir dua kali lipat atau 192% dari rata-rata UMP bulanan secara nasional pada 2024.3

Jakarta, 31 Juli 2026 – Memasuki tahun ajaran baru, berbagai perlengkapan sekolah mulai dari tas, seragam, hingga buku pelajaran telah dipersiapkan. Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting untuk masuk dalam daftar persiapan orang tua, yaitu melindungi anak dari demam berdarah dengue (DBD).

Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Pada 2025, sebanyak 59% kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41% berasal dari kelompok usia 5–14 tahun. Sementara itu, dalam lima tahun terakhir, kasus dengue paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun, yang mencakup 42% dari seluruh kasus pada 2025.1 Data ini menunjukkan bahwa dengue dapat menyerang berbagai kelompok usia, tetapi dampaknya terhadap anak-anak memerlukan perhatian khusus.

Dimulainya tahun ajaran baru tahun ini berdekatan dengan peringatan Hari Anak Nasional pada 23 Juli 2026 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Momentum ini menjadi pengingat bahwa melindungi kesehatan anak merupakan bagian penting dalam mendukung proses belajar, tumbuh kembang, dan masa depan mereka. Upaya tersebut membutuhkan peran bersama keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat.

DBD Bukan Penyakit Musiman

dr. Ikhsanuddin Qothi, dokter sekaligus kreator konten, menjelaskan bahwa masih banyak keluarga yang menganggap DBD hanya perlu diwaspadai saat musim hujan. “DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau, tempat-tempat yang dapat menampung air tetap berpotensi menjadi tempat nyamuk berkembang biak jika tidak ditutup, dikuras, atau dibersihkan secara rutin,” jelas dr. Ikhsan. Ia menambahkan bahwa DBD disebabkan oleh virus yang terdiri atas empat serotipe, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Virus tersebut dapat masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi, terutama Aedes aegypti.

“Nyamuk Aedes aegypti aktif terutama pada pagi dan sore hari. Ini berarti risiko gigitan dapat mengikuti anak selama beraktivitas, baik di rumah, di sekolah, maupun di lingkungan sekitar. Dengue juga tidak selalu terlihat. Sebuah studi di Asia Tenggara dan Amerika Latin memperkirakan sekitar 45% anggota rumah tangga pasien DBD juga terinfeksi, dan hampir tiga perempat dari infeksi yang terdeteksi tidak menunjukkan gejala. Proporsinya bahkan lebih tinggi di Asia Tenggara. Temuan ini mengingatkan kita bahwa risiko DBD dapat berada sangat dekat dengan keluarga tanpa disadari, sehingga pencegahan tidak boleh menunggu sampai ada yang sakit,” lanjutnya.

Risiko yang dapat muncul tanpa disadari ini menjadi semakin penting untuk diperhatikan ketika anak kembali ke sekolah dan menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah, termasuk mengikuti kegiatan belajar, berolahraga, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, dan menunggu perjalanan pulang. Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan hanya di rumah, tetapi juga perlu diterapkan secara konsisten di lingkungan sekolah. Sekolah dapat berperan dengan memastikan tidak ada wadah atau area yang menjadi tempat genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mendorong siswa dan seluruh warga sekolah untuk berpartisipasi aktif dalam penerapan 3M Plus.

Pernah Terinfeksi Tidak Berarti Kebal

dr. Ikhsan juga mengingatkan bahwa pernah terkena DBD tidak membuat seseorang kebal terhadap seluruh serotipe virus dengue. “Setelah terinfeksi salah satu serotipe, seseorang masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe yang berbeda. Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meskipun anak atau anggota keluarga sebelumnya pernah terkena dengue. Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan dengue. Penanganan yang diberikan bertujuan untuk membantu mengatasi gejala, menjaga kondisi pasien, dan mencegah perburukan. Deteksi dini dan akses terhadap penanganan medis yang tepat berperan penting dalam menurunkan risiko dengue berat. Orang tua juga tidak boleh langsung merasa aman ketika demam anak mulai turun. Pada sebagian pasien, tanda bahaya justru dapat muncul setelah demam mereda. Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, mimisan atau gusi berdarah, terlihat sangat lemas, gelisah, atau mengalami penurunan kesadaran, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” tegas dr. Ikhsan.

Dampak yang Tidak Berhenti di Ruang Perawatan

Selain berdampak pada kondisi fisik, DBD dapat mengganggu kegiatan belajar dan aktivitas harian anak. “Anak yang terkena DBD dapat absen dari sekolah dan tertinggal pelajaran. Demam, nyeri tubuh, mual, muntah, dan kelelahan dapat membuat anak kesulitan menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan setelah dinyatakan pulih, sebagian pasien masih dapat mengalami kelelahan selama beberapa minggu. Jadi, ketika anak sudah kembali duduk di kelas, belum tentu kondisi fisiknya telah sepenuhnya kembali seperti semula,” jelas dr. Ikhsan.

Dampak dengue juga dirasakan oleh keluarga. Studi yang dilakukan Universitas Gadjah Mada memperkirakan bahwa beban ekonomi dengue di Indonesia pada 2024 mencapai hampir Rp9 triliun.3 Beban tersebut tidak hanya berasal dari biaya pelayanan kesehatan, tetapi juga pengeluaran yang masih harus dibayar langsung oleh keluarga, seperti transportasi dan kebutuhan selama perawatan, serta hilangnya pendapatan ketika orang tua harus mendampingi anak atau tidak dapat bekerja. Dari total tersebut, sekitar Rp3,5 triliun diperkirakan ditanggung oleh pasien dan keluarga melalui pengeluaran langsung serta kehilangan pendapatan. Kehilangan pendapatan akibat tidak dapat bekerja saja diperkirakan mencapai sekitar Rp1,8 triliun.3 Angka ini menunjukkan bahwa ketika seorang anak terkena DBD, dampaknya dapat meluas pada pendidikan anak, produktivitas orang tua, dan kondisi keuangan keluarga.

Perlindungan yang Ikut Bergerak Bersama Anak

Melihat risiko dengue yang dapat muncul di berbagai tempat, dr. Ikhsan menekankan pentingnya menerapkan pencegahan secara menyeluruh. “Perlindungan dari DBD tidak cukup hanya dengan satu cara. Penerapan 3M Plus tetap perlu dilakukan secara konsisten, mulai dari menguras dan menutup tempat penampungan air, mendaur ulang atau membuang barang yang dapat menampung air, hingga menggunakan pelindung diri dari gigitan nyamuk. Selain itu, vaksinasi juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan dengue yang komprehensif,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

“Orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak dan anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria untuk mendapatkan vaksinasi dengue. Pencegahan yang dilakukan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan dapat membantu memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh bagi anggota keluarga yang memenuhi syarat,” tambah dr. Ikhsan.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan bahwa perlindungan anak dari DBD membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. “Sebagai orang tua, saya memahami betapa beratnya melihat anak sakit dan tidak dapat menjalani kesehariannya seperti biasa. Ketika seorang anak terkena DBD, seluruh keluarga ikut terdampak. Orang tua mungkin harus meninggalkan pekerjaan untuk mendampingi anak, aktivitas keluarga terganggu, dan muncul biaya yang tidak terduga. Semua orang bisa terinfeksi virus dengue, terlepas dari usia, tempat tinggal, maupun gaya hidupnya. Karena itu, perlindungan perlu dimulai dari keluarga, dengan orang tua mengambil peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, termasuk melakukan 3M Plus secara berkelanjutan dan mempertimbangkan penggunaan metode pencegahan yang inovatif. Namun, tanggung jawab ini tidak dapat dibebankan kepada keluarga saja. Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030, Takeda berkomitmen terus mendukung upaya pemerintah dan masyarakat melalui edukasi serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia,” tutup Andreas.

Informasi lebih lanjut mengenai DBD dan pencegahannya dapat diakses melalui www.cegahdbd.comGo to https://www.cegahdbd.com/.

Komitmen Takeda terhadap Vaksin

Vaksin mencegah 3,5 hingga 5 juta kematian setiap tahun dan telah mengubah kesehatan masyarakat global.4 Selama lebih dari 70 tahun, Takeda telah menyediakan vaksin untuk melindungi kesehatan masyarakat di Jepang. Saat ini, fokus unit vaksin global Takeda menerapkan inovasi untuk mengatasi beberapa penyakit menular paling menantang di dunia, seperti dengue, COVID-19, dan flu pandemi. Tim Takeda memiliki rekam jejak yang luar biasa dan pengetahuan yang kaya dalam pengembangan dan pembuatan vaksin untuk mengembangkan portofolio vaksin guna memenuhi beberapa kebutuhan kesehatan masyarakat paling mendesak di dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.takeda.com/science/areas-of-focus/vaccines/.

Tentang Takeda

Takeda berfokus pada menciptakan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat dan masa depan yang lebih cerah bagi dunia. Kami berupaya menemukan dan menyediakan pengobatan yang mengubah hidup di bidang terapeutik dan bisnis inti kami, termasuk gangguan gastrointestinal dan peradangan, penyakit langka, terapi turunan plasma, onkologi, neurosains, dan vaksin. Bersama para mitra, kami berupaya meningkatkan pengalaman pasien dan mengembangkan batas baru pilihan pengobatan melalui portofolio kami yang inovatif dan beragam. Sebagai perusahaan biofarmasi terkemuka berbasis-nilai, penelitian dan pengembangan (R&D), dari Jepang, kami berpedoman pada komitmen kami terhadap pasien, karyawan, dan planet ini. Karyawan kami yang berada di sekitar 80 negara dan wilayah didorong oleh tujuan perusahaan dan didasari oleh nilai-nilai yang telah membentuk kami selama lebih dari dua abad. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.takeda.com.

Di Indonesia, Takeda telah berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan Indonesia selama lebih dari 50 tahun sejak 1971, dengan cakupan keahlian meliputi onkologi, gastroenterologi, penyakit langka, vaksin, dan perawatan kesehatan konsumen (CHC). Kami berkomitmen untuk memperluas akses terhadap produk dan perawatan inovatif kami kepada lebih banyak pasien di Indonesia, membina kemitraan yang berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong hasil yang lebih baik bagi pasien dan meningkatkan sistem kesehatan dalam jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.takeda.com/id-id/.

Pemberitahuan Penting

Untuk tujuan pemberitahuan ini, “siaran pers” berarti dokumen ini, setiap presentasi lisan, setiap sesi tanya jawab, dan setiap materi tertulis atau lisan yang dibahas atau didistribusikan oleh Takeda Pharmaceutical Company Limited (“Takeda”) terkait rilis ini.

Siaran pers ini (termasuk setiap pengarahan lisan dan setiap pertanyaan-dan-jawaban sehubungan dengan itu) bukan merupakan promosi komersial atau kampanye untuk mempromosikan TAK-003 dan tidak dimaksudkan untuk, dan bukan merupakan, mewakili atau membentuk bagian dari setiap penawaran, undangan atau ajakan dari setiap penawaran untuk membeli, atau memperoleh, berlangganan, menukar, menjual atau dengan cara lain melepaskan, produk atau sekuritas apa pun atau permintaan suara atau persetujuan apa pun di yurisdiksi mana pun. Tidak ada saham atau sekuritas lain yang ditawarkan kepada publik melalui siaran pers ini. Penawaran sekuritas tidak boleh dilakukan di Amerika Serikat kecuali sesuai dengan pendaftaran berdasarkan Undang-Undang Sekuritas AS tahun 1933, sebagaimana diubah, atau pengecualian darinya. Siaran pers ini diberikan (bersama-sama dengan informasi lebih lanjut yang dapat diberikan kepada penerima) dengan syarat bahwa itu hanya digunakan oleh penerima untuk tujuan informasi (dan bukan untuk evaluasi investasi, akuisisi, pelepasan atau transaksi lainnya). Kegagalan untuk mematuhi pembatasan ini dapat merupakan pelanggaran terhadap undang-undang sekuritas yang berlaku.

Perusahaan di mana Takeda secara langsung dan tidak langsung memiliki investasi adalah entitas yang terpisah. Dalam siaran pers ini, "Takeda" kadang-kadang digunakan untuk kenyamanan di mana referensi dibuat untuk Takeda dan anak perusahaannya secara umum. Demikian juga, kata “kami”, “kami” dan “milik kami” juga digunakan untuk merujuk pada anak perusahaan secara umum atau mereka yang bekerja untuk mereka. Ungkapan-ungkapan ini juga digunakan di mana tidak ada tujuan yang berguna dengan mengidentifikasi perusahaan atau perusahaan tertentu.

Forward-Looking Statements

Siaran pers ini dan materi apa pun yang didistribusikan sehubungan dengan siaran pers ini dapat berisi pernyataan, keyakinan, atau opini mengenai bisnis Takeda di masa depan, posisi Takeda di masa depan, dan hasil operasi bisnis, termasuk perkiraan, prakiraan, target, dan rencana Takeda. Tanpa batasan, pernyataan berorientasi ke depan sering kali menyertakan kata-kata seperti “target”, “rencana”, “percaya”, “berharap”, “berlanjut”, “mengharapkan”, “bertujuan”, “berniat”, “memastikan”, “akan”, “mungkin”, “seharusnya”, “bisa” “mengantisipasi”, “memperkirakan”, “memproyeksikan” atau ekspresi serupa ataupun bentuk negatifnya. Pernyataan berorientasi ke depan ini didasarkan pada asumsi tentang banyak faktor penting, termasuk berikut ini, yang dapat menyebabkan hasil aktual berbeda secara material dari yang diungkapkan atau tersirat oleh pernyataan berwawasan ke depan: keadaan ekonomi seputar bisnis global Takeda, termasuk kondisi ekonomi umum di Jepang dan Amerika Serikat; tekanan dan perkembangan persaingan; perubahan hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk reformasi perawatan kesehatan global; tantangan yang melekat dalam pengembangan produk baru, termasuk ketidakpastian keberhasilan klinis dan keputusan otoritas pengatur dan waktunya; ketidakpastian keberhasilan komersial untuk produk baru dan yang sudah ada; kesulitan atau penundaan manufaktur; fluktuasi suku bunga dan nilai tukar mata uang; klaim atau kekhawatiran mengenai keamanan atau kemanjuran produk yang dipasarkan atau calon produk; dampak krisis kesehatan, seperti pandemi virus corona baru, pada Takeda dan pelanggan serta pemasoknya, termasuk pemerintah asing di negara tempat Takeda beroperasi, atau pada aspek lain dari bisnisnya; waktu dan dampak dari upaya integrasi pasca-merger dengan perusahaan yang diakuisisi; kemampuan untuk mendivestasikan aset yang bukan merupakan inti dari operasi Takeda dan waktu divestasi tersebut; dan faktor lain yang diidentifikasi dalam Laporan Tahunan terbaru Takeda pada Formulir 20-F dan laporan Takeda lainnya yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS, tersedia di situs web Takeda di: https://www.takeda.com/investors/sec-filings/ atau di www.sec.govGo to https://www.sec.gov/. Takeda tidak berkewajiban untuk memperbarui pernyataan berorientasi ke depan yang terkandung dalam siaran pers ini atau pernyataan berorientasi ke depan lainnya yang mungkin dibuat, kecuali sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang atau peraturan bursa. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikator hasil di masa mendatang dan hasil atau pernyataan Takeda dalam siaran pers ini mungkin bukan indikasi, dan bukan merupakan perkiraan, prakiraan, jaminan, atau proyeksi hasil Takeda di masa mendatang.

Informasi Medis

Siaran pers ini berisi informasi tentang produk yang mungkin tidak tersedia di semua negara, atau mungkin tersedia di bawah merek dagang yang berbeda, untuk indikasi yang berbeda, dalam dosis yang berbeda, atau dalam kekuatan yang berbeda. Tidak ada yang terkandung di sini yang dapat dianggap sebagai ajakan, promosi, atau iklan untuk obat resep apa pun termasuk yang sedang dikembangkan.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI, “Update Data Dengue Tahun 2025”, Januari 2025, hlm. 10.
  2. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7325333/Go to https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7325333/ diakses pada 23 Juli 2026.
  3. Tsalatshita RK et al., Center for Health Financing Policy and Insurance Management, Universitas Gadjah Mada. The Economic Burden of Dengue in Indonesia: Evidence on Disease Severity and Socioeconomic Inequality. ASEAN Dengue Summit, Juni 2026.
  4. World Health Organization. https://www.who.int/health-topics/vaccines-and-immunization#tab=tab_1Go to https://www.who.int/health-topics/vaccines-and-immunization#tab=tab_1 diakses pada 17 April 2026.

C-ANPROM/ID/QDE/1260 | Juli 2026