Takeda

Takeda dan Halodoc Perkuat Pencegahan DBD di Pekan Imunisasi Dunia

Takeda dan Halodoc Perkuat Upaya Bersama Cegah DBD di Momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026


Calendar
5 Mei 2026
  • Kemitraan Takeda dan Halodoc menghadirkan pendekatan one-stop solution, mulai dari akses informasi/edukasi kesehatan, akses konsultasi dokter, hingga langkah pencegahan yang lebih lanjut, guna memperkuat upaya perlindungan komprehensif bagi keluarga dari Demam Berdarah Dengue (DBD).
  • Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata kasus DBD dalam 5 tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat pada 20 tahun terakhir, dengan siklus puncak kasus yang kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi 3 tahun atau kurang.1
  • Momentum Pekan Imunisasi Dunia, yang diperingati pada akhir bulan April setiap tahunnya, menjadi pengingat akan pentingnya langkah pencegahan yang konsisten untuk melindungi masyarakat.

Jakarta, 5 Mei 2026 – Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, PT Takeda Innovative Medicines bersama Halodoc mengumumkan kemitraan strategis dalam upaya bersama mencegah DBD yang berfokus pada peningkatan edukasi dan akses layanan kesehatan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat luas. Kolaborasi ini menjadi bagian dari kontribusi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan DBD di Indonesia, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan kesehatan yang komprehensif.

Infeksi virus dengue, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan DBD, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat pada 20 tahun terakhir, dengan siklus puncak kasus yang kini terjadi lebih cepat, dari sekitar 10 tahun menjadi 3 tahun atau kurang.1 Penyakit ini tidak lagi bersifat musiman, melainkan ada sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.2,3 Beban yang ditimbulkan juga tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi turut memengaruhi produktivitas keluarga hingga ekonomi nasional.4 Data BPJS Kesehatan mencatat lebih dari satu juta kasus rawat inap terkait DBD pada tahun 2024 dengan beban pembiayaan mencapai sekitar Rp3 triliun.5

Melalui kemitraan ini, Takeda dan Halodoc menghadirkan inisiatif yang mencakup edukasi bagi tenaga kesehatan terkait DBD dan upaya pencegahannya, serta berbagai kegiatan edukasi publik melalui platform digital Halodoc. Masyarakat juga dapat memperoleh akses konsultasi dokter untuk mendapatkan informasi yang tepat seputar DBD dan langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan, termasuk di antaranya vaksinasi.

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menyampaikan, “Dengue merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa, hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya, sehingga penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala. Karena itu, pencegahan menjadi sangat penting. Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan RI, Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju ‘Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030’, di antaranya melalui peningkatan pemahaman masyarakat dan kolaborasi lintas sektor. Kami melihat kesamaan tujuan dengan Halodoc dalam meningkatkan literasi publik terkait dengue, terutama dalam hal pencegahaan, dan kemitraan ini menjadi salah satu langkah konkret untuk memperluas jangkauan edukasi tersebut.”

Senada dengan hal tersebut, Jonathan Sudharta, CEO & Co-founder Halodoc, mengatakan, “Sebagai ekosistem kesehatan digital dengan lebih dari 20 juta pengguna aktif, Halodoc berkomitmen mempermudah akses layanan tepercaya, termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi. Mengingat besarnya beban penyakit ini, kemitraan kami dengan Takeda hadir untuk memperkuat edukasi medis yang akurat sekaligus memperluas proteksi bagi masyarakat. Upaya ini membuahkan hasil nyata, di mana akses layanan vaksinasi DBD di Halodoc melonjak hampir 2 kali lipat pada kuartal-1 2026 dibandingkan kuartal-4 2025. Ke depan, kami berharap dapat menjangkau dan mengedukasi lebih banyak lagi masyarakat Indonesia.”

Momentum Pekan Imunisasi Dunia Menjadi Pengingat akan Pentingnya Pencegahan

Upaya kolaboratif ini sejalan dengan momentum Pekan Imunisasi Dunia yang diperingati setiap akhir April, yang menekankan pentingnya pencegahan sebagai fondasi perlindungan kesehatan masyarakat. Dalam konteks DBD, langkah pencegahan yang dilakukan secara konsisten dan komprehensif menjadi semakin relevan, seiring dengan risiko penularan yang terjadi sepanjang tahun dan dipengaruhi oleh perubahan pola cuaca.

Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menekankan bahwa DBD memiliki karakteristik yang unik karena perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi. “Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok. Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran. Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Sekitar 75% kasus DBD terjadi pada kelompok usia 5–44 tahun, dengan proporsi kematian terbesar, yaitu sekitar 41%, terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, yang dapat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh yang masih berkembang serta keterlambatan dalam mengenali gejala. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi. Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun.”

Prof. Hartono menambahkan, “Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan perlindungan diri. Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat melindungi diri sendiri sekaligus orang-orang terdekat dari bahaya infeksi DBD,” tutupnya.

Sementara itu, Dr. dr. Sukamto Koesnoe. SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menekankan bahwa dengue juga memberikan dampak yang signifikan pada kelompok usia dewasa, terutama usia produktif. “Sering kali dengue dianggap sebagai penyakit yang lebih banyak menyerang anak-anak, padahal pada kelompok usia dewasa risikonya tetap tinggi dan dapat berdampak luas. Tidak sedikit pasien dewasa yang harus menjalani rawat inap akibat dengue, yang pada akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, pekerjaan, hingga produktivitas keluarga. Selain itu, pada kelompok usia dewasa, khususnya yang memiliki kondisi penyerta atau komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan kesehatan lainnya, risiko terjadinya komplikasi akibat dengue dapat menjadi lebih tinggi. Kondisi ini dapat memperberat perjalanan penyakit dan meningkatkan kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif. Padahal, pencegahan yang dilakukan sejak awal dapat membantu mengurangi risiko kondisi yang lebih serius. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjadikan pencegahan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari menjaga lingkungan hingga mempertimbangkan langkah perlindungan tambahan sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif. Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia ini, kami mengajak masyarakat untuk lebih proaktif dalam melindungi diri dan keluarga, termasuk dengan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai opsi pencegahan yang tersedia, seperti imunisasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing,” jelasnya.

Perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu, termasuk suhu udara yang lebih tinggi, turut meningkatkan risiko penyebaran DBD. Oleh karena itu, langkah pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pengendalian lingkungan, peningkatan kesadaran, hingga pemanfaatan inovasi kesehatan sebagai bagian dari perlindungan yang lebih menyeluruh terhadap DBD.

Melalui kolaborasi ini, Takeda dan Halodoc berharap dapat mendorong lebih banyak pihak untuk turut ambil bagian dalam memperkuat pencegahan DBD di Indonesia. Upaya bersama yang berkelanjutan diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam menurunkan beban penyakit dan melindungi kesehatan masyarakat secara luas.

Komitmen Takeda terhadap Vaksin

Vaksin mencegah 3,5 hingga 5 juta kematian setiap tahun dan telah mengubah kesehatan masyarakat global.6 Selama lebih dari 70 tahun, Takeda telah menyediakan vaksin untuk melindungi kesehatan masyarakat di Jepang. Saat ini, fokus unit vaksin global Takeda menerapkan inovasi untuk mengatasi beberapa penyakit menular paling menantang di dunia, seperti dengue, COVID-19, dan flu pandemi. Tim Takeda memiliki rekam jejak yang luar biasa dan pengetahuan yang kaya dalam pengembangan dan pembuatan vaksin untuk mengembangkan portofolio vaksin guna memenuhi beberapa kebutuhan kesehatan masyarakat paling mendesak di dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.takeda.com/science/areas-of-focus/vaccines/.

Tentang Takeda

Takeda berfokus pada menciptakan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat dan masa depan yang lebih cerah bagi dunia. Kami berupaya menemukan dan menyediakan pengobatan yang mengubah hidup di bidang terapeutik dan bisnis inti kami, termasuk gangguan gastrointestinal dan peradangan, penyakit langka, terapi turunan plasma, onkologi, neurosains, dan vaksin. Bersama para mitra, kami berupaya meningkatkan pengalaman pasien dan mengembangkan batas baru pilihan pengobatan melalui portofolio kami yang inovatif dan beragam. Sebagai perusahaan biofarmasi terkemuka berbasis-nilai, penelitian dan pengembangan (R&D), dari Jepang, kami berpedoman pada komitmen kami terhadap pasien, karyawan, dan planet ini. Karyawan kami yang berada di sekitar 80 negara dan wilayah didorong oleh tujuan perusahaan dan didasari oleh nilai-nilai yang telah membentuk kami selama lebih dari dua abad. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.takeda.com.

Di Indonesia, Takeda telah berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan Indonesia selama lebih dari 50 tahun sejak 1971, dengan cakupan keahlian meliputi onkologi, gastroenterologi, penyakit langka, vaksin, dan perawatan kesehatan konsumen (CHC). Kami berkomitmen untuk memperluas akses terhadap produk dan perawatan inovatif kami kepada lebih banyak pasien di Indonesia, membina kemitraan yang berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong hasil yang lebih baik bagi pasien dan meningkatkan sistem kesehatan dalam jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.takeda.com/id-id/.

Tentang Halodoc

Halodoc adalah pelopor ekosistem layanan kesehatan digital di Indonesia dengan misi menyederhanakan akses kesehatan yang mudah, aman, dan nyaman. Sejak 2016, Halodoc meningkatkan literasi kesehatan masyarakat melalui komunikasi, edukasi, dan informasi yang mudah dipahami, serta menyediakan layanan preventif hingga kuratif dalam satu aplikasi.

Layanan Halodoc meliputi Chat dengan Dokter bersama 20.000+ dokter berlisensi, Halodoc Store yang terhubung dengan 4.900+ apotek mitra, Homecare untuk tes kesehatan dari rumah, serta Asuransiku untuk akses rawat jalan cashless. Selain itu, Halodoc menghadirkan Digital Clinic seperti Haloskin (perawatan kulit), HaloIntima (kesehatan intim), dan Halofit (program penurunan berat badan).

Mutu layanan Halodoc dijaga ketat melalui Board of Medical ExcellenceGo to https://health.halodoc.com/board-of-medical-excellence/#:~:text=Halodoc%20Board%20of%20Medical%20Excellence%20ada%20sebagai%20pengawas%20yang%20menjaga,dan%20etika%20pelayanan%20kesehatan%20Halodoc. (BoME) yang mengawasi standar klinis, etika, manajemen risiko, serta mendorong inovasi masa depan termasuk integrasi AI dengan prioritas keselamatan pengguna. Halodoc juga memperkuat ekosistemnya melalui Halodoc Academy, sebagai pilar pendidikan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan yang menjadi bagian dari layanan Halodoc. Inisiatif ini menegaskan bahwa Halodoc tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga berinvestasi pada kualitas mitra profesional kesehatan untuk mendukung layanan yang lebih berkelanjutan.

Halodoc merupakan ekosistem layanan kesehatan digital yang dibina oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) dalam program Regulatory Sandbox. Hal ini mencerminkan komitmen kuat dan kemitraan antara Halodoc dan Kemenkes, memastikan pengawasan partisipatif untuk melindungi penyelenggara Inovasi Kesehatan Digital (IDK), konsumen, dan tenaga kesehatan sebagai mitra dalam inovasi digital. Atas kiprahnya, Halodoc meraih berbagai penghargaan, termasuk masuk daftar CB Insights' Digital Health 150 (2019–2020) dan Penghargaan PPKM 2023. Informasi mengenai Halodoc dapat diperoleh melalui halodoc.comGo to https://www.halodoc.com/. Aplikasi Halodoc tersedia di iOS dan Android.

Pemberitahuan Penting

Untuk tujuan pemberitahuan ini, “siaran pers” berarti dokumen ini, setiap presentasi lisan, setiap sesi tanya jawab, dan setiap materi tertulis atau lisan yang dibahas atau didistribusikan oleh Takeda Pharmaceutical Company Limited (“Takeda”) terkait rilis ini.

Siaran pers ini (termasuk setiap pengarahan lisan dan setiap pertanyaan-dan-jawaban sehubungan dengan itu) bukan merupakan promosi komersial atau kampanye untuk mempromosikan TAK-003 dan tidak dimaksudkan untuk, dan bukan merupakan, mewakili atau membentuk bagian dari setiap penawaran, undangan atau ajakan dari setiap penawaran untuk membeli, atau memperoleh, berlangganan, menukar, menjual atau dengan cara lain melepaskan, produk atau sekuritas apa pun atau permintaan suara atau persetujuan apa pun di yurisdiksi mana pun. Tidak ada saham atau sekuritas lain yang ditawarkan kepada publik melalui siaran pers ini. Penawaran sekuritas tidak boleh dilakukan di Amerika Serikat kecuali sesuai dengan pendaftaran berdasarkan Undang-Undang Sekuritas AS tahun 1933, sebagaimana diubah, atau pengecualian darinya. Siaran pers ini diberikan (bersama-sama dengan informasi lebih lanjut yang dapat diberikan kepada penerima) dengan syarat bahwa itu hanya digunakan oleh penerima untuk tujuan informasi (dan bukan untuk evaluasi investasi, akuisisi, pelepasan atau transaksi lainnya). Kegagalan untuk mematuhi pembatasan ini dapat merupakan pelanggaran terhadap undang-undang sekuritas yang berlaku.

Perusahaan di mana Takeda secara langsung dan tidak langsung memiliki investasi adalah entitas yang terpisah. Dalam siaran pers ini, "Takeda" kadang-kadang digunakan untuk kenyamanan di mana referensi dibuat untuk Takeda dan anak perusahaannya secara umum. Demikian juga, kata “kami”, “kami” dan “milik kami” juga digunakan untuk merujuk pada anak perusahaan secara umum atau mereka yang bekerja untuk mereka. Ungkapan-ungkapan ini juga digunakan di mana tidak ada tujuan yang berguna dengan mengidentifikasi perusahaan atau perusahaan tertentu.

Forward-Looking Statements

Siaran pers ini dan materi apa pun yang didistribusikan sehubungan dengan siaran pers ini dapat berisi pernyataan, keyakinan, atau opini mengenai bisnis Takeda di masa depan, posisi Takeda di masa depan, dan hasil operasi bisnis, termasuk perkiraan, prakiraan, target, dan rencana Takeda. Tanpa batasan, pernyataan berorientasi ke depan sering kali menyertakan kata-kata seperti “target”, “rencana”, “percaya”, “berharap”, “berlanjut”, “mengharapkan”, “bertujuan”, “berniat”, “memastikan”, “akan”, “mungkin”, “seharusnya”, “bisa” “mengantisipasi”, “memperkirakan”, “memproyeksikan” atau ekspresi serupa ataupun bentuk negatifnya. Pernyataan berorientasi ke depan ini didasarkan pada asumsi tentang banyak faktor penting, termasuk berikut ini, yang dapat menyebabkan hasil aktual berbeda secara material dari yang diungkapkan atau tersirat oleh pernyataan berwawasan ke depan: keadaan ekonomi seputar bisnis global Takeda, termasuk kondisi ekonomi umum di Jepang dan Amerika Serikat; tekanan dan perkembangan persaingan; perubahan hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk reformasi perawatan kesehatan global; tantangan yang melekat dalam pengembangan produk baru, termasuk ketidakpastian keberhasilan klinis dan keputusan otoritas pengatur dan waktunya; ketidakpastian keberhasilan komersial untuk produk baru dan yang sudah ada; kesulitan atau penundaan manufaktur; fluktuasi suku bunga dan nilai tukar mata uang; klaim atau kekhawatiran mengenai keamanan atau kemanjuran produk yang dipasarkan atau calon produk; dampak krisis kesehatan, seperti pandemi virus corona baru, pada Takeda dan pelanggan serta pemasoknya, termasuk pemerintah asing di negara tempat Takeda beroperasi, atau pada aspek lain dari bisnisnya; waktu dan dampak dari upaya integrasi pasca-merger dengan perusahaan yang diakuisisi; kemampuan untuk mendivestasikan aset yang bukan merupakan inti dari operasi Takeda dan waktu divestasi tersebut; dan faktor lain yang diidentifikasi dalam Laporan Tahunan terbaru Takeda pada Formulir 20-F dan laporan Takeda lainnya yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS, tersedia di situs web Takeda di: https://www.takeda.com/investors/sec-filings/ atau di www.sec.govGo to https://www.sec.gov/. Takeda tidak berkewajiban untuk memperbarui pernyataan berorientasi ke depan yang terkandung dalam siaran pers ini atau pernyataan berorientasi ke depan lainnya yang mungkin dibuat, kecuali sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang atau peraturan bursa. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikator hasil di masa mendatang dan hasil atau pernyataan Takeda dalam siaran pers ini mungkin bukan indikasi, dan bukan merupakan perkiraan, prakiraan, jaminan, atau proyeksi hasil Takeda di masa mendatang.

Informasi Medis

Siaran pers ini berisi informasi tentang produk yang mungkin tidak tersedia di semua negara, atau mungkin tersedia di bawah merek dagang yang berbeda, untuk indikasi yang berbeda, dalam dosis yang berbeda, atau dalam kekuatan yang berbeda. Tidak ada yang terkandung di sini yang dapat dianggap sebagai ajakan, promosi, atau iklan untuk obat resep apa pun termasuk yang sedang dikembangkan.

Referensi

  1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. “Update Data Dengue Minggu ke-40”, hlm. 9.
  2. https://www.dengue.com/seasons-may-shift-dengue-rates-dengue-remains-year-round-threatGo to https://www.dengue.com/seasons-may-shift-dengue-rates-dengue-remains-year-round-threat diakses pada 20 April 2026.
  3. https://www.paho.org/en/topics/dengueGo to https://www.paho.org/en/topics/dengue diakses pada 20 April 2026.
  4. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213398426000187Go to https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2213398426000187 diakses pada 27 April 2026.
  5. Koalisi Bersama Lawan Dengue. (2025). “Policy Brief: Beban Penyakit Dengue dan Penguatan Kepemimpinan Menuju Nol Kematian Dengue pada 2030”. Oktober 2025. Hlm. 10.
  6. World Health Organization. https://www.who.int/health-topics/vaccines-and-immunization#tab=tab_1Go to https://www.who.int/health-topics/vaccines-and-immunization#tab=tab_1 diakses pada 17 April 2026.

C-ANPROM/ID/QDE/1184