Takeda Gelar ABCD Land untuk Cegah DBD di Keluarga Indonesia
Takeda Gelar ABCD Land untuk Perkuat Langkah Pencegahan DBD bagi Keluarga Indonesia
- Studi terbaru memperkirakan lebih dari 2 juta pasien dirawat akibat DBD di Indonesia pada 2024,1 dan angka ini berpotensi meningkat dengan berlangsungnya fenomena El Nino yang menyebabkan meluasnya penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk, termasuk DBD.2
- Data Kementerian RI dalam tujuh tahun terakhir menunjukkan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan, dengan 41% kematian akibat DBD terjadi ada rentang usia 5-14 tahun.3
- DBD bukan hanya ancaman bagi anak-anak, kelompok usia 15-44 tahun menyumbang 42% kasus3; sementara individu dengan komorbiditas seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit ginjal menghadapi risiko komplikasi yang jauh lebih tinggi.4,5
- Takeda bersama Kementerian Kesehatan dan organisasi profesi kesehatan menggelar ABCD Land untuk mendorong keluarga Indonesia mengambil langkah pencegahan DBD yang menyeluruh, termasuk vaksinasi.
Jakarta, 19 Juni 2026 – PT Takeda Innovative Medicines menyelenggarakan kegiatan edukasi publik bertajuk “ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD!” pada tanggal 20-21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif Langkah Bersama Cegah DBD yang telah dijalankan Takeda sejak 2023 bersama mitra dari Kementerian Kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat luas. ABCD Land diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Dengue ASEAN (ASEAN Dengue Day), momentum tahunan yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi dengue sebagai salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di kawasan Asia Tenggara.
DBD di Tengah Ancaman Perubahan Iklim
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.6 Di Indonesia, DBD menjadi beban kesehatan dan ekonomi yang semakin signifikan. Sebuah studi ilmiah terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan total beban ekonomi DBD mencapai hampir Rp9 triliun pada tahun 2024, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap. Studi ini juga menunjukkan bahwa BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun untuk pembiayaan layanan kesehatan terkait DBD, sementara pasien peserta BPJS dan keluarganya masih harus menanggung tambahan biaya sekitar Rp3,5 triliun untuk pengeluaran langsung maupun kehilangan pendapatan selama masa sakit, dan pasien non-BPJS beserta keluarganya menanggung beban sekitar Rp2,2 triliun.1
Urgensi pencegahan DBD semakin meningkat seiring dampak perubahan iklim yang kian nyata. Peluang terbentuknya El Niño mencapai 80 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026, dan berpotensi berlanjut dengan probabilitas di atas 90 persen hingga akhir tahun. Sebagian besar model prakiraan iklim memperkirakan El Niño kali ini akan mencapai intensitas sedang hingga kuat.2 Kondisi ini diperkirakan memengaruhi suhu udara dan pola curah hujan di berbagai wilayah Indonesia, berpotensi memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, sehingga meningkatkan risiko penyebaran DBD secara lebih luas dan potensi wabah yang berkepanjangan.7
dr. Prima Yosephine, MKM, Direktur Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, menegaskan bahwa beban DBD masih tinggi dan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan. “Perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini. Pemerintah telah merumuskan Strategi Nasional (Stranas) Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang menjadi pedoman dalam memerangi DBD di Indonesia. Upaya ini akan semakin diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) yang saat ini sedang dikembangkan, dengan pendekatan komprehensif dan kolaboratif yang mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, hingga pemanfaatan berbagai inovasi pencegahan yang tersedia, termasuk vaksinasi. Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan hanya oleh Pemerintah saja. Kami juga mendorong keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta.”
Sejalan dengan yang disampaikan dr. Prima, drg. Ani Ruspitawati, M.M., Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, menegaskan bahwa sebagai kota dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi, Jakarta menghadapi tantangan tersendiri dalam pengendalian DBD. “Hingga 15 Juni 2026, tercatat 5.700 kasus infeksi dengue di DKI Jakarta. Angka ini menunjukkan bahwa DBD masih menjadi ancaman nyata bagi warga Jakarta, terutama di wilayah dengan mobilitas dan kepadatan penduduk yang tinggi. Karena itu, pencegahan tidak boleh hanya dilakukan saat kasus meningkat, tetapi harus menjadi kebiasaan yang dijalankan secara rutin di rumah, sekolah, dan tempat kerja. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat berbagai upaya pengendalian dengue, mulai dari peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat, penguatan peran kader Jumantik, penggerakan 3M Plus dan pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor dalam rangkaian peringatan ASEAN Dengue Day dan berbagai kegiatan promotif-preventif lainnya. Namun, upaya pemerintah tidak akan optimal tanpa partisipasi aktif masyarakat. Untuk memperkuat program yang telah dicanangkan pemerintah, peran keluarga, sekolah, dan tempat kerja sangat penting dalam menjaga lingkungan agar bebas dari tempat berkembangbiaknya nyamuk. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, komunitas, media, dan masyarakat menjadi kunci untuk memperkuat edukasi serta meningkatkan kesadaran publik tentang pencegahan DBD.”
DBD Mengancam Semua Kelompok Usia
Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan bahwa dalam tujuh tahun terakhir, kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, menyumbang 41% dari total kematian akibat DBD pada 2025. Menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak fatal DBD. Namun ancaman ini tidak berhenti di sana. Dalam lima tahun terakhir, kasus DBD paling banyak ditemukan pada kelompok usia 15–44 tahun, mencapai 42% dari total kasus pada 2025. Data ini mempertegas bahwa DBD adalah ancaman nyata bagi seluruh kelompok usia, bukan sekadar penyakit anak.3
Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memaparkan, “Hingga saat ini masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu. Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera. Perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah. Menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting. Selain itu, pendekatan yang benar-benar komprehensif termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi, juga dapat membantu mengurangi risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD. Karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak mengenai langkah perlindungan untuk buah hati mereka. IDAI sudah memberikan rekomendasi untuk vaksin dengue pada anak untuk perlindungan optimal dari DBD.”
Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menjelaskan, “DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius. Risiko ini semakin besar pada individu dengan kondisi penyerta, seperti: hipertensi, berisiko komplikasi 2-3 kali lebih tinggi; diabetes melitus, 3-5 kali lebih tinggi; penyakit ginjal, hingga 7 kali lebih tinggi; dan mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronik, bahkan 2-12 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbiditas. Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga dapat memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Pencegahan yang komprehensif perlu menjadi perhatian seluruh kelompok usia. PAPDI telah merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18-60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan yang komprehensif.”
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung upaya pencegahan DBD di Indonesia. “DBD masih menjadi penyakit serius yang mengancam jiwa di seluruh Indonesia, dan bebannya terus bertumbuh. Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya, angka yang menunjukkan bahwa kita belum bisa berpuas diri dan tidak boleh lengah. Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya pencegahan DBD melalui edukasi yang menjangkau masyarakat luas, perluasan akses terhadap perlindungan yang inovatif, serta kemitraan yang erat dengan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, kita dapat membantu lebih banyak keluarga Indonesia mengambil langkah perlindungan yang tepat sebelum terlambat.”
Aktivasi ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD! hadir untuk mengajak masyarakat, khususnya keluarga, memahami pentingnya pencegahan DBD secara menyeluruh dan mengambil langkah perlindungan sejak dini. Apalagi menjelang musim liburan sekolah, membekali diri dengan pemahaman yang tepat tentang pencegahan DBD menjadi langkah penting agar keluarga dapat menikmati waktu liburan dengan tenang, bukan dibayangi kekhawatiran akan risiko DBD. Melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan dapat dinikmati bersama seluruh anggota keluarga, kegiatan yang berlangsung pada 20–21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta ini menargetkan lebih dari 1.000 pengunjung selama dua hari penyelenggaraan.
Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas edukatif, konsultasi kesehatan, permainan interaktif untuk keluarga, serta sesi berbagi informasi bersama para ahli guna membantu masyarakat mengenali risiko DBD dan langkah pencegahannya secara praktis. Melalui ABCD Land, Takeda bersama seluruh mitra terkait berharap semakin banyak keluarga Indonesia yang menjadikan perlindungan terhadap DBD sebagai bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari.
Komitmen Takeda terhadap Vaksin
Vaksin mencegah 3,5 hingga 5 juta kematian setiap tahun dan telah mengubah kesehatan masyarakat global.8 Selama lebih dari 70 tahun, Takeda telah menyediakan vaksin untuk melindungi kesehatan masyarakat di Jepang. Saat ini, fokus unit vaksin global Takeda menerapkan inovasi untuk mengatasi beberapa penyakit menular paling menantang di dunia, seperti dengue, COVID-19, dan flu pandemi. Tim Takeda memiliki rekam jejak yang luar biasa dan pengetahuan yang kaya dalam pengembangan dan pembuatan vaksin untuk mengembangkan portofolio vaksin guna memenuhi beberapa kebutuhan kesehatan masyarakat paling mendesak di dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.Takeda.com/what-we-do/areas-of-focus/vaccines/.
Tentang Takeda
Takeda berfokus pada menciptakan kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat dan masa depan yang lebih cerah bagi dunia. Kami berupaya menemukan dan menyediakan pengobatan yang mengubah hidup di bidang terapeutik dan bisnis inti kami, termasuk gangguan gastrointestinal dan peradangan, penyakit langka, terapi turunan plasma, onkologi, neurosains, dan vaksin. Bersama para mitra, kami berupaya meningkatkan pengalaman pasien dan mengembangkan batas baru pilihan pengobatan melalui portofolio kami yang inovatif dan beragam. Sebagai perusahaan biofarmasi terkemuka berbasis-nilai, penelitian dan pengembangan (R&D), dari Jepang, kami berpedoman pada komitmen kami terhadap pasien, karyawan, dan planet ini. Karyawan kami yang berada di sekitar 80 negara dan wilayah didorong oleh tujuan perusahaan dan didasari oleh nilai-nilai yang telah membentuk kami selama lebih dari dua abad. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.takeda.com.
Di Indonesia, Takeda telah berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan Indonesia selama lebih dari 50 tahun sejak 1971, dengan cakupan keahlian meliputi onkologi, gastroenterologi, penyakit langka, vaksin, dan perawatan kesehatan konsumen (CHC). Kami berkomitmen untuk memperluas akses terhadap produk dan perawatan inovatif kami kepada lebih banyak pasien di Indonesia, membina kemitraan yang berkelanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong hasil yang lebih baik bagi pasien dan meningkatkan sistem kesehatan dalam jangka panjang. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.takeda.com/id-id/.
Pemberitahuan Penting
Untuk tujuan pemberitahuan ini, “siaran pers” berarti dokumen ini, setiap presentasi lisan, setiap sesi tanya jawab, dan setiap materi tertulis atau lisan yang dibahas atau didistribusikan oleh Takeda Pharmaceutical Company Limited (“Takeda”) terkait rilis ini.
Siaran pers ini (termasuk setiap pengarahan lisan dan setiap pertanyaan-dan-jawaban sehubungan dengan itu) bukan merupakan promosi komersial atau kampanye untuk mempromosikan TAK-003 dan tidak dimaksudkan untuk, dan bukan merupakan, mewakili atau membentuk bagian dari setiap penawaran, undangan atau ajakan dari setiap penawaran untuk membeli, atau memperoleh, berlangganan, menukar, menjual atau dengan cara lain melepaskan, produk atau sekuritas apa pun atau permintaan suara atau persetujuan apa pun di yurisdiksi mana pun. Tidak ada saham atau sekuritas lain yang ditawarkan kepada publik melalui siaran pers ini. Penawaran sekuritas tidak boleh dilakukan di Amerika Serikat kecuali sesuai dengan pendaftaran berdasarkan Undang-Undang Sekuritas AS tahun 1933, sebagaimana diubah, atau pengecualian darinya. Siaran pers ini diberikan (bersama-sama dengan informasi lebih lanjut yang dapat diberikan kepada penerima) dengan syarat bahwa itu hanya digunakan oleh penerima untuk tujuan informasi (dan bukan untuk evaluasi investasi, akuisisi, pelepasan atau transaksi lainnya). Kegagalan untuk mematuhi pembatasan ini dapat merupakan pelanggaran terhadap undang-undang sekuritas yang berlaku.
Perusahaan di mana Takeda secara langsung dan tidak langsung memiliki investasi adalah entitas yang terpisah. Dalam siaran pers ini, "Takeda" kadang-kadang digunakan untuk kenyamanan di mana referensi dibuat untuk Takeda dan anak perusahaannya secara umum. Demikian juga, kata “kami”, “kami” dan “milik kami” juga digunakan untuk merujuk pada anak perusahaan secara umum atau mereka yang bekerja untuk mereka. Ungkapan-ungkapan ini juga digunakan di mana tidak ada tujuan yang berguna dengan mengidentifikasi perusahaan atau perusahaan tertentu.
Forward-Looking Statements
Siaran pers ini dan materi apa pun yang didistribusikan sehubungan dengan siaran pers ini dapat berisi pernyataan, keyakinan, atau opini mengenai bisnis Takeda di masa depan, posisi Takeda di masa depan, dan hasil operasi bisnis, termasuk perkiraan, prakiraan, target, dan rencana Takeda. Tanpa batasan, pernyataan berorientasi ke depan sering kali menyertakan kata-kata seperti “target”, “rencana”, “percaya”, “berharap”, “berlanjut”, “mengharapkan”, “bertujuan”, “berniat”, “memastikan”, “akan”, “mungkin”, “seharusnya”, “bisa” “mengantisipasi”, “memperkirakan”, “memproyeksikan” atau ekspresi serupa ataupun bentuk negatifnya. Pernyataan berorientasi ke depan ini didasarkan pada asumsi tentang banyak faktor penting, termasuk berikut ini, yang dapat menyebabkan hasil aktual berbeda secara material dari yang diungkapkan atau tersirat oleh pernyataan berwawasan ke depan: keadaan ekonomi seputar bisnis global Takeda, termasuk kondisi ekonomi umum di Jepang dan Amerika Serikat; tekanan dan perkembangan persaingan; perubahan hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk reformasi perawatan kesehatan global; tantangan yang melekat dalam pengembangan produk baru, termasuk ketidakpastian keberhasilan klinis dan keputusan otoritas pengatur dan waktunya; ketidakpastian keberhasilan komersial untuk produk baru dan yang sudah ada; kesulitan atau penundaan manufaktur; fluktuasi suku bunga dan nilai tukar mata uang; klaim atau kekhawatiran mengenai keamanan atau kemanjuran produk yang dipasarkan atau calon produk; dampak krisis kesehatan, seperti pandemi virus corona baru, pada Takeda dan pelanggan serta pemasoknya, termasuk pemerintah asing di negara tempat Takeda beroperasi, atau pada aspek lain dari bisnisnya; waktu dan dampak dari upaya integrasi pasca-merger dengan perusahaan yang diakuisisi; kemampuan untuk mendivestasikan aset yang bukan merupakan inti dari operasi Takeda dan waktu divestasi tersebut; dan faktor lain yang diidentifikasi dalam Laporan Tahunan terbaru Takeda pada Formulir 20-F dan laporan Takeda lainnya yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS, tersedia di situs web Takeda di: https://www.takeda.com/investors/sec-filings/ atau di www.sec.gov. Takeda tidak berkewajiban untuk memperbarui pernyataan berorientasi ke depan yang terkandung dalam siaran pers ini atau pernyataan berorientasi ke depan lainnya yang mungkin dibuat, kecuali sebagaimana diwajibkan oleh undang-undang atau peraturan bursa. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikator hasil di masa mendatang dan hasil atau pernyataan Takeda dalam siaran pers ini mungkin bukan indikasi, dan bukan merupakan perkiraan, prakiraan, jaminan, atau proyeksi hasil Takeda di masa mendatang.
Informasi Medis
Siaran pers ini berisi informasi tentang produk yang mungkin tidak tersedia di semua negara, atau mungkin tersedia di bawah merek dagang yang berbeda, untuk indikasi yang berbeda, dalam dosis yang berbeda, atau dalam kekuatan yang berbeda. Tidak ada yang terkandung di sini yang dapat dianggap sebagai ajakan, promosi, atau iklan untuk obat resep apa pun termasuk yang sedang dikembangkan.
Referensi
- Tsalatshita RK et al., Center for Health Financing Policy and Insurance Management, Universitas Gadjah Mada. The Economic Burden of Dengue in Indonesia: Evidence on Disease Severity and Socioeconomic Inequality. ASEAN Dengue Summit, Juni 2026.
- https://wmo.int/content/launch-of-wmo-el-ninola-nina-bulletin-june-august-2026 diakses pada 8 Juni 2026.
- Kementerian Kesehatan RI, “Update Data Dengue Tahun 2025”, Januari 2025, hlm. 10.
- Ng WY, et al. PloS ONE 2022;17(9):e0273071
- Fonseca-Portilla.R, et al. Int J lnfec Dis. 2021;110:332-336.11
- https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue dikses pada 8 Juni 2026.
- https://www.nature.com/articles/s41467-025-63655-0 diakses pada 11 Juni 2026.
- World Health Organization. https://www.who.int/health-topics/vaccines-and-immunization#tab=tab_1 diakses pada 17 April 2026.
C-ANPROM/ID/QDE/1205