Aktifkan AksesibilitasAktifkan Aksesibilitas

Hari Kanker Sedunia 2022:

"Limfoma Hodgkin: Dari Tantangan Menuju Harapan”

15 Februari 2022
  • PT Takeda Indonesia ikut serta dalam memperingati Hari Kanker Sedunia dengan mengadakan kegiatan media edukasi yang membahas terkait tantangan dan harapan dari penyakit Limfoma Hodgkin.
  • Berdasarkan data dari Globocan 2020, kejadian Limfoma Hodgkin di Indonesia mencapai 1.188 kasus. Sementara itu, angka kematian akibat Limfoma Hodgkin pada tahun 2020 mencapai 363 kasus.
  • Sebagian besar pasien terdiagnosis Limfoma Hodgkin antara usia 15 dan 30 tahun, kemudian pada usia 55 tahun.
  • Salah satu cara mendiagnosis Limfoma Hodgkin yaitu dengan melakukan imunohistokimia (IHK). Pengecekan untuk CD20, CD30, CD45, CD79a, dan PAX5 direkomendasikan untuk Limfoma Hodgkin. Sel Reed-Sternberg dari jenis classical Hodgkin Lymphoma (cHL) mengekspresikan CD30 dan CD15 pada sebagian besar pasien.
  • Seiring dengan progres yang signifikan dalam hal manajemen pasien Limfoma Hodgkin, saat ini tingkat kesembuhan mencapai minimal 80% pasien. Pilihan terapi yang lebih efektif dan inovatif telah meningkatkan harapan hidup.
  • Pengobatan yang diberikan untuk penderita Limfoma Hodgkin dapat berupa kemoterapi, radioterapi, terapi bertarget, dan immunoterapi.
  • PT Takeda Indonesia berkomitmen untuk menyediakan akses terhadap obat-obatan inovatif bagi para pasien di Indonesia, termasuk para pasien Limfoma Hodgkin dengan CD30+ yang sangat membutuhkan penanganan yang tepat untuk kondisi mereka.

Jakarta, 15 Februari 2022 – Dalam rangka peringatan Hari Kanker Dunia 2022, PT. Takeda Indonesia Bersama dengan Organisasi Profesi Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN) mengadakan diskusi media bertajuk “Limfoma Hodgkin : Dari Tantangan Menuju Harapan” guna meningkatkan kesadaran mengenai salah satu penyakit yang masih dianggap langka di Indonesia saat ini. Limfoma Hodgkin merupakan penyakit yang jarang, namun termasuk jenis kanker limfoma dengan tingkat kesembuhan yang tinggi. Dengan pengobatan yang tepat, paling sedikit 8 dari 10 pasien dapat sembuh. Banyak pasien Limfoma Hodgkin yang bertahan hidup dibandingkan dengan kanker lainnya [1].

Tubuh manusia tersusun dari triliunan sel yang tumbuh, membelah, dan kemudian mati. Akan tetapi, kerusakan gen terkadang dapat terjadi selama pembelahan sel yang menyebabkan sel mulai membelah secara abnormal tanpa terkontrol. Hal inilah yang mengawali terjadinya sel kanker, dalam hal ini khususnya pembelahan sel pada sistem limfatik [1].

Sistem limfatik adalah kumpulan jaringan dan organ yang membantu tubuh menyerang infeksi dan penyakit. Jaringan dan organ yang membentuk sistem limfatik sebagian besar yaitu sel darah putih atau disebut limfosit. Jenis limfoma dibagi menjadi dua, yaitu Limfoma Non Hodgkin dan Limfoma Hodgkin [1].

Dalam kegiatan diskusi media memperingati Hari Kanker Sedunia 2022, dr.Ronald Alexander Hukom, Sp.PD KHOM, MHSc, FINASIM – Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik, Ketua Perhompedin Jakarta, yang bertindak sebagai moderator mengatakan “Penyebab dari Limfoma Hodgkin belum dapat diketahui, namun sekitar 40% kasus Limfoma Hodgkin diasosiasikan dengan adanya Epstein-Barr Virus (EBV) [2]”.

Limfoma Hodgkin dibagi menjadi dua jenis, yaitu classical Hodgkin Lymphoma (cHL) dan Nodular Lymphocyte Predominant Hodgkin Lymphoma (NLPHL). Sebagian besar (95%) pasien HL merupakan pasien cHL. Dalam pemeriksaan, cHL ditandai dengan adanya sel besar Reed-Stenberg Cells, sedangkan NLPHL ditandai dengan sel berbentuk popcorn [3].

Gejala yang muncul pada pasien Limfoma Hodgkin diantaranya B symptoms (demam lebih dari 38o C, berkeringat pada malam hari, penurunan bobot badan lebih dari 10% bobot badan selama 6 bulan), dan gejala lain yang dapat berhubungan dengan Limfoma Hodgkin seperti pruritus, kelelahan yang luar biasa meskipun sudah tertidur, dan mengalami reaksi yang buruk terhadap alkohol [4].

Menurut Global Cancer Statistic (Globocan) 2020, terdapat 1.188 kasus Limfoma Hodgkin di Indonesia. Sementara itu, angka kematian karena Limfoma Hodgkin mencapai 363 kasus. Dalam hal diagnosis Limfoma Hodgkin, dapat dilakukan beberapa pengujian seperti : Biopsi disertai uji immunohistokimia (IHK), Pengecekan riwayat kesehatan (B Symptoms), Tes darah, dan Tes Pencitraan/Imaging test (PET/CT scan). Pengecekan IHK untuk CD3, CD15, CD20, CD30, CD45, CD79a, dan PAX5 direkomendasikan untuk classical Limfoma Hodgkin. Sel Reed-stenberg pada cHL mengekspresikan CD30 dan CD15 pada sebagian besar pasien, dan umumnya negatif untuk pengecekan CD3 dan CD 45, sedangkan CD20 dapat terdeteksi pada kurang dari 40% pasien [5].

Sebelum melakukan pengobatan, penting untuk mengetahui seberapa jauh sel kanker telah menyebar. Proses ini disebut penentuan stadium (staging) Limfoma Hodgkin. Umumnya Limfoma Hodgkin dimulai dari bagian atas tubuh – sering kali pada nodus limfa di leher, dada, atau ketiak. Diafragma adalah jaringan otot di bawah paru-paru dan jantung. Hal ini dipertimbangkan sebagai pembagian area antara dada dan perut (abdomen). Penentuan stadium Limfoma Hodgkin berdasarkan pada, apakah sel kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening atau area lain di bawah diafragma atau tidak. Terdapat 4 tingkatan stadium untuk Limfoma Hodgkin. Stadium I, terdapat sel kanker pada satu area di atas diafragma. Stadium II, terdapat sel kanker pada nodus limfa pada 2 area atau lebih di atas diafragma. Stadium III, terdapat sel kanker kedua sisi (atas dan bawah diafragma). Stadium IV, terdapat sel kanker pada banyak area di satu atau lebih organ di luar sistem limfatik [1].

dr. Johan Kurnianda SpPD-KHOM, Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik, Ketua Perhompedin Yogyakarta, yang bertindak sebagai pembicara megatakan “Berdasarkan tatalaksana dari National Comprehensive Cancer Network (NCCN), jenis pengobatan Limfoma Hodgkin diantaranya : kemoterapi, terapi bertarget, radioterapi, transplantasi sumsum tulang, dan imunoterapi sesuai dengan stadium pasien [1].”

Sebanyak 80% pasien berhasil sembuh dari penyakit Limfoma Hodgkin pada pengobatan lini pertama. Namun, meninggalkan 20% pasien yang berisiko kambuh (relapse) atau mengalami perburukan penyakit (disease progression) setelah terapi lini pertama tersebut. Sementara itu, untuk sebagian besar pasien yang kambuh, terapi penyelamatan (salvage treatment) tidak cukup optimal, dan seringkali terdiri dari kemoterapi dosis tingi diikuti dengan autologous transplantasi sumsum tulang (ASCT). Sekitar 50% pasien yang membutuhkan ASCT, tidak akan mencapai perbaikan dalam jangka waktu yang lama. Maka dari itu dibutuhkan pengobatan inovatif untuk pasien tersebut [6].

“Pengobatan inovatif salah satunya terapi target dapat menjadi pilihan pengobatan. Terapi target (targeted therapy) diantaranya Brentuximab vedotin dan Rituximab. Brentuximab vedotin merupakan monoclonal antibody drug conjugate, yang terdiri dari 3 komponen, diantaranya : 1) Antibodi monoklonal, 2) Monomethyl Auristatin E (MMAE) sebagai zat sitotoksil, 3) Linker (penghubung antibody monoclonal dan MMAE) yang merupakan enzim protease [7]. Brentuximab vedotin mentargetkan sel kanker yang memiliki CD30. CD30 merupakan glikoprotein pada sel membrane. Lebih dari 98% kasus limfoma hodgkin mengekspresikan CD30 [8].” Terang dr. Johan

“Sementara itu, Rituximab adalah monoklonal antibodi untuk pengobatan Nodular Lymphocyte Predominant Hodgkin Lymphoma (NLPHL). Beberapa sel NLPHL memiliki protein pada permukaannya yang disebut CD20. Rituximab mentarget sel kanker yang memiliki CD20 dan selanjutnya menghancurkan sel tersebut [1].” Tambah dr. Johan.

Setalah pengobatan selesai, dilakukan tindak lanjut dalam 5 tahun pertama. Tindak lanjut meliputi pemeriksaan fisik dan tes darah. Pemeriksaan fisik dapat dilakukan setiap 3-6 bulan selama 1-2 tahun, kemudian setiap 6-12 bulan sampai 3 tahun, selanjutnya setiap 1 tahun sekali. Tes darah meliputi CBC (Complete Blood Count), ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate), dan sebagainya [1].

Dari sisi akses pengobatan, Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa negara dengan pendapatan nasional lebih rendah memiliki ketersediaan obat anti kanker yang lebih rendah pula, khususnya untuk obat dengan harga yang premium termasuk terapi target [9].

Berbagai strategi dapat diimplementasikan untuk meningkatkan akses pengobatan, mulai dari kenaikan harga, menyediakan program bantuan pasien, dan mengembangkan realibilitas dalam rantai pasok global untuk meningkatkan keterjangkauan obat (Affordability) [9].

Andreas Gutknecht, General Manager PT Takeda Indonesia mengatakan “Takeda Indonesia sebagai salah satu perusahaan biofarmasi terkemuka, berkomitmen untuk menjalankan tujuan organisasi untuk menghadirkan obat-batan inovatif yang dibutuhkan para pasien, sejalan dengan tujuan perusahaan Kesehatan yang lebih Baik untuk Pasien, dan Masa Depan Lebih Cerah untuk Dunia (Better Health for the People, Brighter Future for the World.”

“Terkait dengan penangan obat-obatan untuk para pasien Limfoma Hodgkin (khususnya dengan CD30+) di Indonesia. Takeda Indonesia berkomitmen untuk menyediakan akses terhadap pengobatan, salah satunya melalui program Patient Assistance Program yang memungkinkan pasien yang terkendala secara finansial dapat memperoleh akses terhadap pengobatan Limfoma Hodgkin CD30+.” Tutup Andreas.

- Selesai -

Daftar Pustaka

[1] National Comprehensive Cancer Network (NCCN Guideline) for Patient for Hodgkin Lymphoma, 2022

[2] Massini G, Siemer D, Hohaus S. EBV in Hodgkin Lymphoma. Mediterr J Hematol Infect Dis. 2019;1(2). doi:10.4084/MJHID.2019

[3] Swerdlow SH, et al.. WHO Classification of Tumors of Hematopoietic and Lymphoid Tissues, Revised 4th ed. Lyon: IARC Press; 2017.

[4] Shanbhag S, Ambinder RF. Hodgkin lymphoma: A review and update on recent progress. CA Cancer J Clin. 2018;68(2):116-132.

[5] The Global Cancer Observatory: https://gco.iarc.fr/today/data/factsheets/populations/900-world-fact-sheets.pdf (Accessed on Jan 2022)

[6] Majhail NS, et al. Biol Blood Marrow Transplant. 2006;12: 1065-1072

[7] Senter PD. Curr Opin Chem Biol 2009; 13: 235–244

[8] Von Wasielewski R, et al. Am J Pathol. 1997;151(4):1123-1130

[9] World Health Organization. Technical Report: Pricing of Cancer Medicines and its Impact. Geneva: World Health Organization (2021).

Tentang Takeda Pharmaceutical Company Limited

Takeda Pharmaceutical Company Limited adalah perusahaan biofarmasi terkemuka berbasis-nilai, penelitian dan pengembangan (R&D), dari Jepang, yang berkomitmen untuk menemukan dan menghadirkan perawatan terkini, yang sejalan dengan komitmen kami kepada para pasien (Patients), orang-orang Takeda (People), dan juga (Planet) ini. Takeda berfokus kepada upaya R&D di berbagai area terapetik, termasuk: Oncology, Rare Diseases, Inflammatory Bowel Disease, and Haemophilia. Kami juga menginvestasikan R&D dalam pengembangan Vaksin. Kami berfokus untuk mengembangkan obat-obatan inovatif yang berkontribusi untuk memberikan perbedaan dalam perawatan dan kualitas hidup pasien dengan riset terhadap pilihan perawatan dan menggunakan kemampuan dan keahlian R&D kami untuk menciptakan lini perawatan (pipeline) yang luas. Takeda berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan bekerjasama dengan para mitra kami di layanan kesehatan di 80 negara di dunia. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi https://www.takeda.com.

Kontak Media:

Ferdo Pratama / Communications Manager

E: [email protected]

P: +62-21-2939-9999